Apa yang terjadi paska terbakarnya Kapal Penumpang Motor (KMP) Levina I? Berdasarkan berita-berita di televisi dan media cetak, syahbandar di beberapa pelabuhan mulai “sibuk” memeriksa perlengkapan keselamatan kapal dan kondisi kapal. Lalu mulai memeriksa kendaraan atau penumpang yang akan masuk ke kapal.
Bahkan di Lombok ada kapal yang dicabut izinnya karena tidak memadainya perlengkapan keselamatan bagi penumpangnya
Pertanyaannya : Lalu selama ini kerjaan mereka apa? Sebagai administrator saja? Ah buang-buang uang negara saja mereka.
Memang terlalu dini untuk berkesimpulan mengapa bahan kimia berbahaya dapat masuk ke KMP Levina I. Tapi dengan cara yang bodohpun sekalipun, kita bisa menarik kesimpulan sederhana. Pertama, memang tidak ada aturannya. Kedua, tidak ada pemeriksaan fisik. Ketiga, petugasnya disuap. Entah yang mana yang benar, saya tidak tahu karena saya tidak punya data mengenai hal tersebut.
Ada sebuah syahbandar (sepertinya kalau tidak salah di Surabaya) yang langsung memisahkan angkutan penumpang dengan angkutan bahan berbahaya? Nah lho…..kenapa baru sekarang sadarnya? Kenapa nggak dari dulu pak / bu? Try to think smartly and creative donk. Nasib manusia-manusia lain ada di tangan Anda lho.
Tapi mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sistem birokrasi yang berbelit-belit adalah salah satu PENYEBAB UTAMA para aparat kita berbuat demikian. Mereka condong menjadi orang yang tidak kreatif dan tidak dapat menyampaikan pendapatnya dalam kepentingan kemajuan usaha.
Analogi sederhananya bisa dikatakan seperti ini. Negara untung atau tidak dari unit usaha ini, nggak ada untungnya buat saya kok.
Pendapat seperti itu, bisa dikaitkan dengan relatif kecilnya pendapatan yang diterima mereka, tidak ada bonus atas performance, dan bahkan mungkin tidak ada THR juga. Kalau kita diperlakukan seperti itu oleh perusahaan, maka etos kerja kita pun nyaris tidak ada. Singkatnya, hanya setor muka dan sekedar menjalankan kewajiban sehari-hari. Jangankan bonus, dipotong untuk ini dan itu alias disunat mungkin sekali.
Akibatnya? Masih ingat iklan Sampoerna A Mild yang menceritakan birokrasi? Ya kira-kira seperti itu. Masih bagus A Mild dalam iklannya tidak pakai sogok menyogok. Jadi, memang di lapangan banyak aparat yang money oriented.
Tentang aparat yang money oriented saya ada cerita tersendiri. nanti kan saya ceritakan di topik yang lain.
Ada contoh. Misalkan kita belanja di supermarket atau hipermarket, dari kelas Alfa Mart atau Indo Mart sampai dengan Carefour atau Giant. Kita membeli mi instan, roti, permen, dan makanan ringan lain. Lalu kita juga beli pembasmi serangga, pengharum ruangan atau lemari. Apa yang terjadi setelah kita sampai di kasir?
Yang jelas kita mesti keluarin uang atau kartu kredit dari dompet kan? Itu sudah pasti, jangan ditanya lagi ya. Nah, Anda perhatikan tidak, kalau mereka memisahkan komponen yang sifatnya konsumtif dengan komponen yang sifatnya non konsumtif (terutama yang sifatnya berbahaya)? Kalau tidak, tembak di tempat saja kasirnya. Hehe…becanda kok. Itu sudah menjadi standar operasi yang mutlak untuk mereka. Nggak perlu kita suap juga sudah mereka lakukan kok.
Tapi memang dasar yang namanya aparat di Indonesia, ada kejadian dan disorot publik, baru sibuk semua. Setelah ada kasus lain, dan perhatian publik berpindah, biasanya kendor lagi. Lihat saja nanti.
Apakah hak-hak publik atas keselamatan menjadi taruhannya? Masak sih manusia dicampur dengan bahan kimia berbahaya yang mudah meledak? Stupid cupid banget ya. Masih lebih baik nasib Roti atau permen (dari contoh di atas). Mereka diletakkan terpisah dari pembasmi serangga. So, kalau pembasmi serangga sesampainya di rumah ternyata bocor, rotinya masih bisa kita makan dengan aman. Bukannya jadi roti rasa pembasmi serangga. Tul nggak?
Kita bicara manusia, yang memiliki akal, rasa, dan budaya. Sedemikian rendahkah 3 hal tersebut di mata para pengelola atau aparat atau pemerintah terhadap keselamatan manusia? Hanya Tuhan dan mereka yang tahu jawabannya. Tanya Kenapa…Tanya Kenapa.


